Tentukan mana hatimu !

Hari kamis minggu lalu (23/05/2013) , kota Malang sudah menentukan pilihan walikota yang jatuh pada Abah Anton menggantikan Drs. Peni Suparto, yang sudah menjabat selama dua periode sebagai walikota Malang . Dalam hal ini, acara lima tahunan tersebut menjyajikan fenomena yang menarik untuk dikaji secara akademik. Jauh sebelumnya, seperti kita ketahui, banyak sekali pawai-pawai dilakukan para calon walikota untuk menarik perhatian masyarakat. Mulai dari peduli rakyat cilik, misalnya bagi-bagi baju, mengadakan konser dangdut, dan lain sebagainya. Bahkan ada calon walikota yang menggunakan “baju kotak-kotak” yang sama seperti Jokowi untuk menarik perhatian massa. 

Selain memasang foto di hampir semua tempat-tempat strategis dan di ruang-ruang publik, semua calon membuat singkatan-singkatan khusus untuk nama calon dan pasangannya. Misalnya, Dwi Cahyono-Nuruddin disingkat “DWI-UDDIN”, pasangan Achmad Mujais-Yunar Mulya disingkat “RAJA” , pasangan Moch. Anton-Sutiaji disingkat  “AJI”, Heri Pudji Utami dan Sofyan Edi Jarwoko (disingkat DaDi), pasangan Sri Rahayu-Priyatmoko Oetomo disingkat SR-MK, dan pasangan Agus Dono-Arif H.S disingkat “DOA”. Tujuannya tidak lain adalah untuk memudahkan diingat dan lebih komunikatif. Tanpa disadari  atau tidak, para pelaku politik di kota Malang  telah memanfaatkan kekuatan bahasa dan simbol sebagai piranti menggapai kekuasaan dan tidak semata menggunakan sumber ekonomi sebagai instrumen utama. Di balik singkatan, slogan dan wara serta bentuk pakaian para politisi terdapat suatu konsep yang bekerja di dalam suatu sistem politik, khususnya dalam ranah komunikasi politik. Dari sisi komunikasi politik, di antara singakatan nama para calon, singkatan DOA (Agus Dono dan Arif H.S) yang paling efektif, karena mudah mengingatnya.
Kedua, semua calon  membuat slogan-slogan sesuai visi, dan misi yang diperjuangkan lengkap dengan warna dan model pakaian masing-masing. Misalnya, pasangan Heri Pudji Utami dan Sofyan Edi Jarwoko memilih jargon Pas Manteb, pasangan Dwi Cahyono-Nuruddin memilih “Blak-Blakan APBD” sebagai jargon, pasangan Sri Rahayu-Priyatmoko Oetomo memilih “Saatnya Kota Malang Lebih Baik”, sedangkan pasangan M.Anton dan Sutiaji memilih jargon “Peduli Wong Cilik”. Jargon terakhir ini sudah sangat sering dipakai oleh para calon kepala daerah, sehingga tidak lagi memiliki daya tarik.
Yang menarik lagi di antara jargon tidak ada yang mengusung tema “putra daerah” sebagai isu utama. Mungkin para calon sudah belajar dari kasus pilgub DKI di mana pasangan petahana Fauzi Bowo begitu intensif mengusung tema “putra asli Betawi”, dan “Hanya orang Jakarta Asli yang Tahu Jakarta” dan ternyata menjadi blunder. Fauzi Bowo dan pasangannya tidak sadar berapa persen warga DKI yang asli Betawi dan apakah tugas gubernur dan wakilnya hanya akan mengurus warga asli. Tentu tidak.

 Selain itu , Abah, Bunda, dibuat untuk menambah keakraban dengan masyarakat. Itu semua membuat masyarakat harus makin jeli dalam memilih pemimpinnya, siapa yang memang benar-benar pantas untuk dijadikan pemimpin di kota Malang.  Namun ada satu hal yang tertinggal dari itu semua, apakah ada sedikit saja ketulusan dari para calon walikota itu untuk membantu rakyat kecil? Ataukah hanya sedekar permainan politik? Dengan jangkauan kekuasaan yang begitu luas, apakah begitu efektif untuk melakukan hal-hal seperti itu? Agaknya hal itu tidak terlalu dipedulikan oleh rakyat kecil. Sebagian besar dari mereka hanya memanfaatkan “kebaikan” dari para calon walikota, selebihnya mereka lebih memilih menggunakan hati nuraninya masing-masing. Bagi sebagian orang, mungkin berpikir lebih jeli dengan berkata demikian,

“Kita pilih Mr.X saja, karena dia sudah kaya. Jadi kan tidak mungkin korupsi”

“Abah X saja, kelihatannya alim dan bersahaja”

Sebenarnya kekayaan, kekuasaan, jabatan seseorang sungguh tidak ada hubungannya sama sekali dalam hal ini. Belum tentu mereka yang sudah kaya tidak korupsi atau belum tentu yang kelihatan alim itu benar-benar alim. Seperti Jokowi, misalnya. Beliau bisa terlipih menjadi walikota Jakarta karena kepeduliannya, ketulusannya pada rakyat kecil khususnya. Tanpa beliau harus mengeluarkan kocek banyakpun , rakyat kecil sudah merasa selangkah lebih dekat dengan seorang pemimpin idaman. Pendekatannya pada rakyat kecil seperti ini seharusnya yang lebih ditanamkan, berlandaskan dengan ketulusan akan pengabdian, bukan hanya sekedar mengumpulkan banyak massa untuk terlihat kuat dukungannya, namun ujungnya ternyata banyak dari massa itu yang justru tidak memilih dia , dan bahkan memilih calon walikota yang lain. Seharusnya, dengan adanya permainan politik yang seperti ini, para calon walikota dari jauh-jauh hari , sudah melakukan pendekatan-pendekatan khusus dengan masyarakat, atau istilahnya “Merakyat” , sehingga itu akan lebih memudahkan mereka untuk dapat terpilih, karena banyaknya simpati dari masyarakat tersebut.

Memang, dalam berpolitik seperti ini, kekuasaan bisa digunakan seluas-luasnya, seperti permainan uang, dan lain sebagainya. Kalau kalah, maka sudah bisa dilihat bahwa , ratusan juta rupiah sudah melayang di depan mata. Belum lagi jika tim suksesnya mengeluarkan begitu banyak uang. Memang hal itu sudah resiko, namun jika ada calon walikota yang tidak memiliki banyak uang bagaimana? Sepertinya memang ketulusan disini yang dibutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s